Senin, 13 April 2015

Arti Cinta Menurut Dr. Sarlito W. Sarwono


Arti Cinta

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Cinta bersifat timbal balik. Dalam cinta ada kesungguhan untuk membangung hubungan cinta yang ideal. Cinta yang ideal akan mewujudkan kehidupan yang terbaik. Pengertian cinta juga dikemukakan oleh Dr. Sarlito w. Sarwono dalam majalah Sarinah dengan artikel yang berjudul Cinta Segitiga. Menurutnya cinta ideal memiliki 3 unsur, yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Berikut 3 arti cinta menurut Dr. Sarlito W. Sarwono :

1.      Keterikatan, adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, kalau janji dengan dia harus ditepati, atau ada uang sedikit beli oleh-oleh hanya untuk dia.
2.      Keintiman, adalah adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dan dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga panggilan-panggilan formal seperti Bapak, Ibu, Saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan, seperti sayang. Makan-minum dari satu piring-cangkir tanpa rasa risi, pinjam-meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan rahasia, dan lain-lainnya.
3.      Kemesraan, adalah adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang, saling mencium, merangkul, dan sebagainya.

Selanjutnya Dr. Sarlito W. Sarwono juga mengemukakan bahwa tidak semua unsur cinta itu sama kuat. Kadang-kadang, ada yang keterkaitannya sama kuat tetapi keintiman atau kemesraannya kurang. Cinta seperti itu mengandung kesetiaan yang amat kuat, dan kecemburuannya besar, serta dirasakan oleh pasangannya dingin atau hambar karena tidak ada kehangatan yang ditimbulkan dari kemesraan atau keintiman. Cinta sahabat karib atau saudara sekandung. Cinta seperti ini penuh keakraban, tetapi di dalamnya tidak ada gejolak-gejolak mesra, karena orang-orang yang bersangkutan masih lebih setia kepada hal-hal lain daripada partnernya. Ada juga cinta yang diwarnai dengan kemesraan yang sangat menggejolak, tetapi unsur keintiman dan keterikatannya kurang. Cinta seperti ini dinamakan cinta yang pincang. Apabila digambarkan garis-garis unsur cintanya tidak membentuk segitiga sama sisi.



Daftar Pustaka
Widyosiswoyo, Supartono. 2001. Ilmu Budaya Dasar. Bogor: Ghalia Indonesia

Senin, 06 April 2015

Tugas 4 IBD ---> IBD yang dihubungkan dengan prosa


Kisah Cinta Datu Museng & Maipa Daepati

              
 

Cerita rakyat kisah cinta Datu Museng & Maipa Daepati berasal dari tanah Galesong. Tanah galesong merupakan pusat angkatan laut kerajaan gowa. Cerita ini bercerita tentang seorang gadis bangsawan dari Sumbawa yang mencintai seorang putra bangsawan di Kerajaan Gowa, kedua orang tuamya dibunuh oleh pasukan Belanda sehingga ia dirawat oleh kakeknya di tempat kelahiran kakeknya di Sumbawa. Datu Museng dan Maipa Daepati tumbuh besar bersama hingga akhirnya jatuh cinta. Kedua orang tua Maipa Daepati tidak merestui hubungan mereka karena Maipa Daepati sudah dijodohkan dengan seorang bangsawan di Sumbawa dan merasa Datu Museng tidak layak bersama dengan Maipa Daepati. Kakek Datu Museng pun menyuruh Datu Museng untuk menuntut ilmu di Madinah dan kembali saat ia sudah layak untuk bersama Maipa Daepati.

Selama Datu Museng pergi Maipa Daepati terus mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar. Saat Datu Museng kembali kerajaan Sumbawa mengadakan pertandingan permainan raga untuk menghibur Maipa Daepati dan membuat Maipa Daepati keluar kamar. Tapi tidak ada yang berhasil membuat Maipa Daepati keluar dari kamar. Datu Museng pun mencoba mengikuti permainan raga, pada awalnya ia banyak melakukan kesalahan namun saat kakek Datu Museng meneriaki namanya Maipa pun beranjak keluar dari kamarnya. Melihat Maipa keluar dari kamarnya membangkitkan semangat Datu Museng. Di akhir permainan Datu Museng menendang bola Raga tinggi-tinggi hingga masuk ke dalam kamar Maipa Daepati dan membuat Maipa sakit. Keluarga Maipa memanggil banyak dukun untuk mengobati penyakit Maipa tapi tidak behasil. Hingga suatu hari seorang ahli nujum menyarankan untuk mendatangkan Datu Museng, orang yang selalu disebut Maipa dalam tidurnya.

Datu Museng datang dan pengobatan pun dilakukan dan Maipa pun sembuh. Namun, untuk sembuh total Maipa harus mandi di sungai pada bulan purnama, namun hal ini sangat beresiko karena mungkin akan terjadi bencana pada saat itu. Maipa pun diberangkatkan untuk mandi di sungai. Namun saat Maipa masuk ke sungai terjadi angin topan dan membuat para dayang terbawa angin topan. Maipa diselamatkan oleh Datu Museng dan dibawa ke rumahnya di Gowa. Disana Maipa akhirnya kawin dengan Datu Museng tanpa seizin orang tuanya. Orang tua Maipa Daepati geram mendengar kabar ini dan menyuruh para pengawalnya untuk menjemput Maipa Daepati namun tidak ada yang berhasil. Hingga suatu hari orang tua Maipa Daepati akhirnya menyerah dan merestui hubungan mereka dan meminta mereka datang ke kerajaan Sumbawa. Disana Datu Museng pun diangkat sebagai panglima perang.

Suatu hari Datu Museng mendengar kabar tentang keluarganya yang berada di gowa yang banyak dibunuh oleh pasukan Belanda. Mendengar hal ini Datu Museng pun pergi ke Gowa untuk melawan pasukan Belanda. Seorang pasukan Belanda jatuh cinta pada Maipa dan ingin membunuh Datu Museng dan merebut Maipa. Datu Museng melawan semua serangan pasukan Belanda. Hingga suatu hari mereka terkepung dan Datu Museng pun menanyakan istrinya permintaan terkhirnya karena mereka telah terkepung oleh pasukan belanda. Saat itu Maipa meminta untuk dibunuh oleh Datu Museng karena ia memilih mati di tangan suaminya dibandingkan disentuh oleh orang Belanda. Datu museng pun menangis mendengarnya. Lalu saat keadaan semakin mendesak Datu Museng pun membunuh istrinya dan bilang bahwa ia akan segera menyusul istrinya. Lalu saat hari semakin sore akhirnya Datu Museng pun dibunuh oleh pasukan Belanda dan menyusul istrinya.

Cerita ini bercerita tentang cinta & kesetiaan seorang istri yang hingga akhir hayatnya lebih memilih mati di tangan suaminya dibandingkan disentuh oleh pria lain. Adapun nilai-nilai yang diperoleh oleh pembaca adalah nilai warisan budaya di Makassar yang bernama adat sirih yaitu lebih baik mati dari pada berkhianat

Senin, 23 Maret 2015

Ikatan Manusia dan Kebudayaan


Ikatan Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan mempunyai ikatan yang sangat kuat, dimana manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dan saling terikat. Manusia membutuhkan kebudayaan dan begitu pula kebudayaan membutuhkan manusia. Hubungan manusia dan kebudayaan adalah hubungan yang akan selalu ada dalam kehidupan di dunia. Di dunia ini, manusia dan kebudayaan akan selalu terhubung satu sama lain. Ikatan di antara manusia dan kebudayaan sangat dibutuhkan dalam kehidupan, karena dalam kehidupan manusia adalah objek yang menciptakan kebudayaan. Manusia menciptakan kebudayaan sebagai aturan untuk mereka patuhi dalam kehidupan. Dan kebudayaan hal yang akan selalu menahan manusia dan membuat manusia tidak boleh melanggar aturan yang mereka buat.
Ikatan manusia dan kehidupan akan terus berlangsung sepanjang kehidupan. Karena kebudayaan akan terus ada sepanjang kehidupan sebagai aturan yang harus dipatuhi dalam kehidupan manusia. Fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia adalah sebagai aturan tidak tertulis yang akan menahan manusia dalam melakukan hal-hal yang tidak baik. Kebudayaan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena bila tidak ada kebudayaan maka tidak ada aturan yang akan membatasi tingkah laku manusia dalam hidup. Sebagai contoh, bila seseorang ingin melakukan sesuatu ia akan berpikir tentang kebudayaan di sekitarnya dan berpikir ulang untuk melakukan hal itu bila melanggar norma kebudayaan yang berlaku dalam lingkungannya.
Contoh sederhana kebudayaan dalam kehidupan yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yaitu, manusia membuat peraturan bagi dirinya sendiri untuk selalu membersihkan rumahnya setiap hari, peraturan itu adalah peraturan yang dibuat oleh diri manusia sendiri tidak ada yang menyuruh manusia melakukan hal itu. Tetapi, manusia membuat peraturan itu untuk dirinya sendiri sebagai aturan dalam kehidupannya agar rumahnya akan selalu dalam keadaan yang bersih, dan manusia terus melakukannya dan tidak melanggar aturan yang sudah dia buat dan dijadikan kebudayaan dalam hidupnya. 

Senin, 16 Maret 2015

Hakikat Manusia


Hakikat Manusia


Hakikat manusia dalam kehidupan.

Manusia adalah makhluk social yang tidak bisa hidup sendirian. Dalam hidupnya, manusia memiliki hakekat yang dijadikan sebagai dasar dalam hidup. Hakikat manusia terbagi menjadi 4 bagian, yaitu
a.       Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tubuh adalah materi yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jika manusia meninggal, tubuhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat didalam tubuh, tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi abadi. Jika manusia meninggal, jiwa lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya yaitu Tuhan, dan jiwa tidak mengalami kehancuran. Jiwa adalah roh yang ada di dalam tubuh manusia sebagai penggerak dan sumber kehidupan. Tubuh dan jiwa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena jika salah satu dari mereka tidak ada maka manusia tidak akan bisa hidup. Tubuh manusia tidak akan bisa hidup tanpa jiwa, karena tubuh tersebut tidak akan bisa bergerak tanpa jiwa, dan jiwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa tubuh, karena jiwa manusia memerlukan tubuh sebagai tempat hidup.
b.      Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.
Manusia merupakan mahluk ciptaan manusia yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya, karena manusia dilengkapi dengan akal dan perasaan. Dengan akal, manusia dapat menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan perasaan, manusia dapat menciptakan kesenian. Perasaan dalam diri manusia terbagi menjadi 2 macam, yaitu perasaan inderawi dan perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani melalui pancaindra. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya:
1)      Perasaan Intelektual, yaitu perasaan yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Seseorang merasa senang bila ia bisa menjawab soal yang rumit, sebaliknya seseorang merasa tidak puas bila ia tidak berhasil menjawab soal yang rumit.
2)      Perasaan Estetis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan keindahan. Seseorang merasa senang apabila ia melihat sesuatu yang indah, sebaliknya seseorang merasa kesal apabila ia melihat sesuatu yang tidak indah.
3)      Perasaan Etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan. Seseorang merasa senang apabila sesuatu itu baik, sebaliknya seseorang merasa kesal bila sesuatu itu jahat.
4)      Perasaan Diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain. Apabila seseorang memiliki kelebihan pada dirinya, ia merasa tinggi dan sombong, sebaliknya apabila ada kekurangan pada dirinya ia merasa rendah diri.
5)      Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok, atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan orang lain. Apabila orang berhasil, ia ikut senang, apabila orang gagal, ia ikut sedih.
6)      Perasaan Religius, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama dan kepercayaan. Seseorang merasa tentram jiwanya apabila ia tawakal kepada Tuhan, yaitu mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya
c.       Mahluk biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi.
Manusia adalah produk dari saling tindak atau interaksi faktor-faktor hayati dan budayawi. Sebagai mahluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi, fisiologi, psikologi, dll. Sebagai mahluk budayawi manusia dapat dipelajari dari segi-segi kemasyarakatan, keakraban, ekonomi, dll.
d.      Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai 3 taraf dalam hidupnya, yaitu estetis, etis, dan religious. Dengan kehidupan estetis manusia mampu menangkap dunia sekitarnya sebagai dunia yang mengagumkan dan mengungkapkan kembali dalam lukisan, tarian, dan nyanyian yang indah. Dengan etis, manusia meningkatkan kehidupan estetis ke dalam tingkatan manusia dalam bentuk-bentuk keputusan bebas yang dipertanggung jawabkan. Dengan kehidupan religious, manusia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin dekat pula ketentraman pada dirinya, dan dijauhkan dari kekhawatiran. Sehingga manusia yang terikat dengan lingkungan mempunyai kualitas dan martabat karena manusia yang terikat dengan lingkungan akan melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Senin, 09 Maret 2015


Ilmu Budaya Dasar

A.    Pengertian Ilmu Budaya Dasar
Ilmu budaya dasar adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia, kebudayaan, dan masalah-masalah keseharian yang sering terjadi pada manusia.  Ilmu budaya dasar diharapkan dapat memberikan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah manusia. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan. Karna kebudayaan tecipta oleh manusia dan kebudayaan mengikat manusia untuk terus melakukan hal yang mereka lakukan. Dengan mempelajari ilmu budaya dasar, manusia tidak akan melupakan kebudayaannya. Oleh karena itu mempelajari ilmu budaya dasar sama dengan mempelajari kebudayaan. Banyak definisi kebudayaan yang telah diungkapkan oleh beberapa tokoh.
Menurut saya pribadi ilmu budaya dasar adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan manusia, kebiasaan yang sering mereka lakukan, dan permasalahan-permasalahan dalam hidup mereka. Dengan mempelajari ilmu budaya dasar, manusia tidak akan melupakan jati dirinya. Karna kebudayaan yang telah mereka buat akan terus mengikat mereka. Mempelajari ilmu budaya dasar juga diharapkan dapat membantu manusia menyelesaikan permasalahan mereka dengan mengingat dasar dan nilai-nilai kebudayaan mereka.

B.     Pengertian kebudayaan menurut para ahli
-          Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dalam masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran dalam hidup dan penghidupan guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
-          Sutan Takdir Alisyahbana
Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir, sehingga menurutnya pola kebudyaan itu sangat luas sebab semua laku dan perbuatan tercakup di dalamnya dan dapat diungkapkan pada basis dan cara berpikir, termasuk didlamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.
-          Koentjaraningrat
Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar serta keseluruhan dari budi pekertinya.
-          A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn
A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam bukunya Culture, a Critical Review of Concepts and Definitions (1925) mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.
-          Malinowski
Malinowski menyebutkan bahwa kebudayaan pada prisipnya berdasarkan atas berbagai sistem kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang khas. Misalnya, guna memenuhi kebutuhan manusia akan keselamatannya, maka timbul kebudayaan yang berupa perlindungan, yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu, seperti lembaga kemasyarakatan.
-          C.A. van Peursen
C.A. van Peursen mengatakan bahwa dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang. Berlainan dengan hewan, manusia tidak dapat hidup begitu saja di tengah alam. Oleh karena itu, untuk dapat hidup, manusia harus mengubah segala sesuatu yang telah disediakan oleh alam. Misalnya, beras agar dapat dimakan diubah dulu menjadi nasi.



Daftar Pustaka

Widyosiswoyo, Supartono. 2001. Ilmu Budaya Dasar. Bogor: Ghalia Indonesia

Sabtu, 03 Januari 2015

Tugas Softskill 5


Masyarakat

Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan sempit. Dalam arti luas masyarakat adalah kseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Atau dengan kata lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti sempit masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya territorial, bangsa, golongan dan sebagainya.

Pengertian Masyarakat desa dan kota menurut para ahli
-          Masyarakat desa
·         Bambang Utoyo
Desa merupakan tempat sebagian besar penduduk yang bermata pencarian di bidang pertanian dan menghasilkan bahan makanan
·         R. Bintarto
Desa adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis politik, kultural setempat dalam hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain
·         Sutarjo Kartohadikusumo
Desa merupakan kesatuan hukum tempat tinggal suatu masyarakat yang berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri merupakan pemerintahan terendah di bawah camat
·         William Ogburn dan MF Nimkoff
Desa adalah kesatuan organisasi kehidupan sosial di dalam daerah terbatas.
·         S.D. Misra
Desa adalah suatu kumpulan tempat tinggal dan kumpulan daerah pertanian dengan batas-batas tertentu yang luasnya antara 50 – 1.000 are.
·         Paul H Landis
Desa adalah suatu wilayah yang jumlah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan cirri-ciri sebagai berikut :
1.      Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antra ribuan jiwa
2.      Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan
3.      Cara berusaha (ekonomi) aalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.

-          Masyarakat kota
·         Wirth
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. 
·         Max Weber
Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.
·         Dwigth Sanderson
Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.

Perbedaan masyarakat desa dan kota
1.       Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2.       Pekerjaan atau Mata Pencaharian, Pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3.       Kepadatan Penduduk, Penduduk desa kepadatannya lbih rendah bila dibandingkan dgn kepadatan penduduk kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.
4.       Homogenitas dan Heterogenitas, Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.

Mengapa masyarakat pedesaan yang bekerja sebagai petani banyak yang tidak ingin bekerja sebagai petani?

Perubahan musim yang menyebabkan terjadinya gagal panen membuat petani merasa semua hal dia lakukan hanya menambah kerugian dan tidak menghasilkan apa-apa. Biaya bibit dan pupuk yang semakin mahal ditambah gagal panen yang terus terjadi menyebabkan petani merasa bertani bukanlah jalan yang tepat untuk mencari nafkah. Petani merasa harus melakukan hal lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Petani merasa modal yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan, karena tak jarang petani tidak mendapatkan keuntungan apapun tapi hanya menambah kerugian dengan terus mengeluarkan biaya untuk membeli bibit dan pupuk tetapi perubahan musim menyebabkan gagal panen terus terjadi. Karena itu banyak para petani memutuskan untuk berhenti bertani dan menjual lahan bertani untuk dipakai menjadi modal untuk usaha karena pendapatan yang lebih meyakinkan dibandingkan terus bertani.


Sumber :

Tugas Softskill 4


Pelapisan Sosial

Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakatsecara vertikal (bertingkat).

Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja,serta kemampuannya dalam berbagi kepada sesama

Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepadamasyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

Pelapisan Sosial di Indonesia
Indonesia merupakan bangsa yang memiliki karakteristik masyarakat yang majemuk. Kemajemukan tersebut yang menghasilkan adanya stratifikasi sosial atau pengelompokan suatu masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu secara vertikal. Stratifikasi sosial sebenarnya sudah ada sejak jaman Indonesia di jajah oleh Belanda dan Jepang. Koloni mengelompokkan masyarakat Indonesia ke dalam golongan-golongan tertentu sesuai dengan rasnya. Akan tetapi di jaman sekarang, stratifikasi sosial tidak lagi dikelompokkan berdasarkan ras. Stratifikasi sosial di Indonesia lebih mengarahkan penggolongan suatu masyarakat yang dinilai dari segi status sosialnya seperti jabatan, kekayaan, pendidikan atau sistem feodal pada masayarkat Aceh dan kasta pada masyarakat Bali. Sedangkan ras, suku, klan, budaya, agama termasuk ke dalam penggolongan secara horizontal.

Terdapatnya masyarakat majemuk di Indonesia tidak serta muncul begitu saja, akan tetapi karena faktor-faktor seperti yang dijelaskan dalam artikel Nasikun (1995) yaitu, pertama keadaan geografis yang membagi Indonesia kurang lebih 3000 pulau. Hal tersebut yang menyebabkan Indonesia memiliki suku budaya yang banyak seperti Jawa, Sunda, Bugis, Dayak, dan lain-lain. Kedua ialah Indonesia terletak di antara Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik yang mneyebabkan adanya pluralitas agama di dalam masyarakat Indonesia seperti Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Dan ketiga ialah iklim yang berbeda-beda dan struktur tanah yang tidak sama yang menyebabkan perbedaan mata pencaharian antar wilayah satu dengan wilayah lainnya. Sehingga hal tersebut pula dapat membedakan moblitas suatu masyarakat satu dengan masyarakat lainnya dalam kondisi wilayah yang berbeda.

Kemudian Pierre L. van den Berghe dalam artikel Nasikun (1995) menyebutkan karaktistik dari masyarakat majemuk ialah (1) Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki sub-kebudayaan yang berbeda satu sama lain, (2) Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer, (3) Kurang mengembangkan konsensus di antara anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar, (4) Secara relatif, seringkali terjadi konflik di antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, (5) Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi, (6) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lainnya.

Masyarakat majemuk tentu rentan terhadap adanya konflik. Hal tersebut dikarenakan etnosentrisme suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat yang lainnya. Hal tersebut dirasa wajar mengingat terdapat banyaknya suku budaya yang ada di Indonesia yang masing-masing dari suku tersebut merasa bahwa sukunya lebih dominan dari suku lain. Seperti pernyataan dari pendekatan konflik, bahwa masyarakat majemuk terintegrasi di atas paksaan dari suatu kelompok yang lebih dominan dan karena ada saling ketergantungan antar kelompok dalam hal ekonomi (Nasikun 1995, 64). Kelangsungan hidup suatu masyarakat Indonesia tidak saja menuntut tumbuhnya nilai-nilai umum tertentu yang disepakati bersama oleh sebagian besar orang akan tetapi lebih daripada itu nilai-nilai umum tersebut harus pula mereka hayati melalui proses sosialisasi (Nasikun 1995, 65). Sehingga dari proses sosialisasi yang ditanamkan sejak dini, dapat mengurangi resiko konflik antar masyarakat dalam pandangan yang etnosentris.

Dari pandangan penulis dapat disimpulkan bahwa, stratifikasi yang terdapat di dalam bangsa Indonesia seharusnya dapat dimengerti secara bijak. Kemunculan sistem penggolongan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok tertentu tidak begitu saja muncul di atas kemajemukan suatu bangsa. Ada sebuah hal yang dihargai dalam suatu kelompok masyarakat yang menyebabkan stratifikasi sosial itu dibutuhkan. Dan pluralitas yang terdapat dalam bangsa Indonesia seperti perbedaan agama, suku, budaya dan ras seharusnya tidak dijadikan sebuah masalah mengingat semboyan yang selalu ditanamkan oleh masyarakat Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Dan pasca merdekanya Indonesia, menurut penulis perbedaan-perbedaan tersebut semakin membesar mengingat bahwa suatu masyarakat di dalam suatu wilayah akan terus berkembang.

Contoh pelapisan masyarakat di Indonesia
-          Orang yang mempunyai banyak kekayaan atau uang biasanya menempati urutan pertama dalam pelapisan masyarakat karena dianggap penting dan akan dibutuhkan, sebaliknya orang yang tidak mempunyai kekayaan akan menempati urutan terendah dalam pelapisan masyarakat karena dianggap keberadaannya tidak dibutuhkan atau tidak penting
-          Orang yang mempunyai kekuasaan seperti pejabat pemerintahan  akan menempati urutan pertama dalam pelapisan masyarakat karena kekuasaannya diharapkan akan memberikan dampak bagi masyarakat, sebaliknya orang yang tidak mempunyai kekuasaan akan menempati urutan terendah dalam pelapisan masyarakat karena dianggap keberadaannya tidak memberikan dampak bagi masyarakat.
-          Orang yang dihormati akan menempati urutan pertama dalam pelapisan masyarakat. Hal ini biasanya terjadi di daerah pedesaan yang masih kental akan adat istiadat dan kebudayaan. Contohnya, orang yang dianggap berjasa di masyarakat akan menempati urutan pertama dalam pelapisan masyarakat karena jasa-jasanya.
-          Orang yang berpendidikan akan menempati urutan pertama dalam pelapisan masyarakat. Contohnya, orang yang berpendidikan dan mempunyai gelar akan lebih dihormati dibandingkan orang yang tidak berpendidika atau memiliki gelar

Sumber :